Selasa, 30 November 2010

Masa Lalu dan Masa Depan

Manusia. Memiliki otak yang jauh lebih kompleks dari makhluk ciptaan Allah yag lainnya. Otak manusia bisa menampung ilmu sampai lebih dari 60.000 buku ensiklopedi. Kelemahannya, manusia sering lupa alias khilaf. Itulah sebabnya, jika manusia berbuat salah, yang jadi alasan adalah, “khilaf”(lamun basa sunda na mah hilap).
Walaupun sifat manusia sering lupa, tapi manusia cenderung ingat pada sesuatu yang istimewa. Biasanya, jika dalam hidup kita terjadi sebuah kenangan indah atau pahit, lebih mudah diingat daripada kenangan yang biasa-biasa saja. Tapi, kenangan itu nggak akan pernah terulang. Karena sejarah tak akan pernah terulang. Sayangnya, kita sebagai manusia sering lupa akan hal itu. Maka, sering kita berujar (meski dalam hati), “seandainya bisa balik lagi ke SMA…”. Rumasa teu?


Itulah sebabnya, Imam al-Ghazali pernah mengingatkan kita “yang paling jauh dari kita adalah masa lalu.” Yup. Jelas masa lalu adalah hal yang paling jauh dari kita. Coba saja kejar masa lalu itu sampai dapat. Nggak akan pernah sampai. Kenapa Imam al-Ghazali sampai menyebut seperti itu? Karena kita seringkali terjebak dalam masa lalu. Kita enggan beranjak, karena kita telah nyaman di masa lalu. Padahal, lingkungan kita pun berubah meninggalkan masa lalu.

Sadarkah kita, saat orang lain belari mengejar mimpi mereka masing masing, kita masih belum beranjak sedikit pun. Kita lupa bahwa di depan sana ada masa depan yang harus dikejar. Bukan melarang untuk mengenang masa lalu. Tapi waktu terus berjalan meninggalkan kita. Jika kita terlena dengan masa lalu, kita tak akan mungkin mengejar sang waktu.

Kawan, sejarah tidak akan berulang. Dan tiap detik yang bergulir, sejarah baru terjadi. Apakah kita hanya diam dan menyaksikan? Mari ukir sejarah, jangan hanya jadi sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar